1 August 2011 4 Comments

Kumpulan Artikel Puasa Menurut Hukum Hindu

Pada dasarnya hukum berarti aturan, puasa berarti mendekatkan diri dengan Tuhan melalui pengenda lian indrya atau indra, lalu bagaimana Puasa dalam Hukum Hindu? dibawah ini saya kutipkan beberapa artikel yang membahas tentang puasa diadalam ajaran Hindu atau Hukum Hindu. Puasa dalam kaitanya Hukum Hindu adalah sebagai Penebusan Dosa, tentang puasa sebagai penebusan Dosaterdapat didalam  kitab-kitab Dharmasastra.

 

Arti Kata Puasa

Puasa berasal dari bahasa sansekerta yang terdiri dari kata Upa dan Wasa, di mana Upa artinya dekat atau mendekat , dan Wasa artinya Tuhan atau  Yang Maha Kuasa. Upawasa atau puasa artinya mendekatkan diri kepada Tuhan yang maha esa Jadi sebenarnya Islam Indonesia telah meminjam istilah puasa dari Hindu sebab puasa dalam bahasa Arab adalah shaum, di Jawa dan Sunda istilahnya menjadi syiam. Jadi, puasa dalam Hindu merupakan bagian dari tapa. Kata tapa mempunyai arti pengendalian terhadap napsu: napsu makan, minum, sex serta hiburan. Aplikasi daripada tapa berbentuk brata yaitu pengendalian indria.

Berpuasa Menurut Hindu

OmSwastiastu,

PUASA

  1. Puasa (Upawasa) yang wajib (diharuskan) adalah:
  1. Siwaratri (lihat kalender) jatuh pada panglong ping 14 Tilem ke pitu, yaitu sehari sebelum tilem. Contoh: Untuk y.a.d. jatuh pada Hari Rabu, tanggal 21 Januari 2004. Puasa total tidak makan dan minum apapun dimulai sejak matahari terbit pada hari Rabu tanggal 21 Januari 2004 sampai dengan matahari terbenam tanggal 22 Januari 2004.
  2. Nyepi, jatuh pada penanggal ping pisan sasih kedasa (lihat kalender ketika libur nasional). Puasa total tidak makan dan minum apapun dimulai ketika fajar hari itu sampai fajar keesokan harinya (ngembak gni).
  3. Purnama dan tilem, puasa tidak makan atau minum apapun dimulai sejak fajar hari itu hingga fajar keesokan harinya.
  4. Puasa untuk menebus dosa dinamakan dalam Veda Smrti untuk Kaliyuga: Parasara Dharmasastra, sebagai “Tapta krcchra vratam” adalah puasa selama tiga hari dengan tingkatan puasa:
  1. minum air hangat saja,
  2. susu hangat saja,
  3. mentega murni saja,
  4. tanpa makan dan minum sama sekali.

Pilihan ditentukan oleh jenis dosa yang dilakukan: membunuh binatang, membunuh/ mencederai sapi, hubungan kelamin terlarang (zina), makan makanan terlarang, membunuh manusia, dll.

  1. Puasa yang tidak wajib adalah puasa yang dilaksanakan di luar ketentuan di atas, misalnya pada hari-hari suci: odalan, anggara kasih, dan buda kliwon. Puasa ini diserahkan pada kebijakan masing-masing, apakah mau siang hari saja atau satu hari penuh. Ingat bahwa pergantian hari menurut Hindu adalah sejak fajar sampai fajar besoknya; bukan jam 00 atau jam 12 tengah malam.
  2. Puasa berkaitan dengan upacara tertentu, misalnya setelah mawinten atau mediksa, puasa selama tiga hari hanya dengan makan nasi kepel dan air kelungah nyuhgading.
  3. Puasa berkaitan dengan hal-hal tertentu: sedang bersamadhi, meditasi, sedang memohon petunjuk kepada Hyang Widhi, setiap saat (tidak berhubungan dengan hari rerainan) dan jenis puasa tentukan sendiri apakah total (tidak makan dan minum sama sekali) selama 1 hari 1 malam atau seberapa mampunya. Memulai puasa dengan upacara sederhana yaitu menghaturkan canangsari kalau bisa dengan banten pejati memohon pesaksi serta kekuatan dari Hyang Widhi. Mengakhiri puasa dengan sembahyang juga banten yang sama. Makanan sehat yang digunakan sebelum dan setelah puasa terdiri dari unsur-unsur: beras (nasi) dengan sayur tanpa bumbu keras, buah-buahan, susu, madu dan mentega.

Makanan yang dianjurkan dan dilarang bagi umat Hindu ada dalam Manawa Dharmasastra buku ke V. Silahkan lihat dan pelajari, usahakan menepati apa yang ditulis disana. Wanita yang sedang haid ada dalam keadaan cuntaka, jadi tidak boleh berpuasa. Tidak ada perbedaan puasa antara laki dan perempuan.

Om Santi, Santi, Santi,Om…

http://mahendrawijaya.blogspot.com/2010/08/berpuasa-menurut-hindu.html

 

 

Puasa Siwaratri Semestinya Tiap Bulan

Marayakan Siwaratri pada hakekatnya adalah melakukan pengendalian diri. Caranya dengan upawasa, monobrata, dan jagra. Namun, umat Hindu semestinya tiap bulan berpuasa.

Pada suatu suatu hari atau pertengahan bulan, angkasa Nusantara seolah-olah dipenuhi oleh kata-kata “puasa, puasa, dan puasa”. Pagi-pagi buta televisi dan radio sudah menyiarkan acara yang berkaitan dengan puasa. Kalaupun kita tidak menyalahkan kedua barang ajaib tersebut, speaker masjid tempat tinggal kita juga berteriak “sahur-sahur, sahur-sahur”. Tak ketinggalan iklan di tv, radio, pamplet dan spanduk di jalanan menuliskan “Selamat Menjalankan Ibadah Puasa”. Ya benar, pada waktu itu bertepatan dengan bulan Ramadhan bagi orang Islam.

Sebagai anggota masyarakat yang hidup di tengah-tengah orang yang menjalankan puasa, mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, kita akan mendengar, melihat juga memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan ritual tahunan tersebut. Namun hal ini juga menggugah keingintahuan dalam diri kita sebagai orang Hindu. Kemudian akan timbul pertanyaan, adalah puasa dalam ajaran Hindu? Kalaupun ada, mantra atau sloka manakah dalam Weda yang memerintahkan untuk berpuasa, kapan, dan bagaimana melakukannya?

Pada orang-orang Jawa ajaran puasa ini juga cukup memasyarakat. Kita mengenal banyak macam puasa. Ada yang dinamakan “Pasa Ngebleng” yaitu puasa tidak makan tidak minum dan ngumpet di suatu tempat tertentu, biasanya di kamar atau juga membuat lubang di tanah, waktunya bisa 1 hari 1 malam, 3 hari 3 malam atau 7 hari 7 malam dan seterusnya. Hal ini mirip dengan puasa Nyepi.Adajuga puasa “Mutih” yaitu puasa hanya dengan makan nasi putih tanpa lauk tanpa garam, minumnya juga hanya air putih tanpa pemanis. Waktunya fleksibel ada yang 1 hari, 3 hari, 7 hari. Kemudian puasa “Ngrowot” yaitu puasa hanya makan umbi-umbian, buah-buahan selain nasi.Adajuga puasa tidak tidur atau “melek”.

Pertanyaan semakin kuat, adakah ajaran puasa dalam Hindu? Ya, benar. Ajaran Hindu penuh dengan ajaran puasa yang dikenal dengan istilah tapa, meskipun istilah puasa itu sendiri berasal dari bahasa Sanskerta dari kata upawasa. Jadi sebenarnya Islam Indonesia telah meminjam istilah puasa dari Hindu sebab puasa dalam bahasa Arab adalah shaum, di Jawa dan Sunda istilahnya menjadi syiam. Tapa berarti pengendalian atas indra-indra dan pikiran. Dengan tapa orang mencapai kesucian, dengan kesucian orang bisa dekat dengan Hyang Widhi. Dunia ini bisa berjalan dengan baik karena disangga oleh salah satunya adalah tapa.

Artarwa Weda XII.1.1 mengatakan:

Satyam brhad rtam ugram diksa, tapo brahma yajna prthiwim dharayanti.

Artinya: Sesungguhnya Satya, rta, diksa, tapa, brahma dan Yajna yang menyangga dunia.

Yajur Weda XX.25 mengatakan:

Dengan melakukan tapa (brata atau puasa) seseorang memperoleh diksa (penyucian), dengan melakukan diksa seseorang memperoleh daksina, dengan daksina seseorang memperoleh sraddha (keyakinan) dan dengan sraddha seseorang memperoleh satya (kebenaran).

Atharwa Weda VIII.9.3 mengatakan:

Brahma-enad vidyat tapasa vipascit.

Artinya: Orang yang bijaksana mengetahui Hyang Widhi dengan sarana tapa (penebusan dosa dengan puasa).

Artarwa Weda IV.11.6 mengatakan:

Yena devah svar aruruhur, hitva sariram amrtasya nabhim

Tena gesma sukrtasya lokam, gharmasya vratena tapasa ya sasya vah.

Artinya: Dengan pertolongan Hyang Widhi, orang-orang bijaksana sesudah kematian memperoleh keselamatan, yang mencapai pusat nectar (minuman dewa) yakni kebahagiaan sejati. Semoga kami yang berkeinginan kemasyuran juga mencapai kekekalan itu, melalui pelaksanaan pertapaan yang keras dan menjalankan janji (brata).

Atharwa Weda XI.8.2 mengatakan:

Tapas caiva-astam karma ca-antar mahati-arna ve.

Artinya: Tapa dan keteguhan hati adalah satu-satunya juru selamat di dunia yang mengerikan.

Rg Weda IX.83.1 mengatakan:

Atapta-tanur na tad amo asnute.

Artinya: Orang tidak bisa menyadari Sang Hyang Widhi Wasa, Yang Maha Agung tanpa melaksanakan tapa.

Intisari tapa adalah pengendalian atau pembatasan atas dua hal yaitu pikiran dan indra-indra. Indra jumlahnya adalima yang disebut Panca Indra. Indra mempunyai alat indra yang juga berjumlahlima yang disebut Panca Karmendriya, dan mempunyai obyek indra yang disebut Panca Tanmatra.

Indra-indra itu antara lain:

1. Indra pendengaran alatnya telinga obyeknya suara.

2. Indra sentuhan alatnya kulit obyeknya angin dan hal-hal yang bila menyentuh terasa menyenangkan.

3. Indra penglihatan alatnya mata obyeknya cahaya atau wujud-wujud.

4. Indra pengecap alatnya lidah obyeknya makanan, minuman.

5. Indra penciuman alatnya hidung obyeknya bau.

Pengendalian atas indra-indra itu adalah sebagai berikut:

1. Pengendalian atas indra pendengaran berarti membatasi telinga untuk mendengarkan hal-hal yang menyenangkan seperti suara musik, suara pujian termasuk suara merdu sang pacar.

2. Pengendalian atas indra sentuhan berarti membatasi kulit untuk merasakan hal-hal yang menyenangkan seperti sentuhan halus kulit kekasih, tempat tidur atau kursi yang empuk, dan lain-lain.

3. Pengendalian atas indra penglihatan berarti membatasi mata untuk melihat hal-hal yang menyenangkan seperti TV, film, VCD porno, wajah cantik atau tampan, dan sebagainya, tapi arahkan penglihatan ke dalam batin, ke wujud Atman terus ke wujud Sivatattwa, karena di sana lebih indah dan lebih menyenangkan.

4. Pengendalian atas indra pengecap berarti puasa tidak makan dan minum serta membatasi lidah untuk berbicara, bicara hanya hal-hal yang perlu dan baik.

5. Pengendalian atas indra penciuman berarti membatasi hidung untuk mencium bau-bau yang menyenangkan seperti bau harum parfum, makanan, termasuk harum pipi kekasihnya.

Itulah kelima indra yang harus dikendalikan. Kunci untuk bisa mengendalikan indra adalah pengendalian atas pikiran. Pikiran mempunyai jangkauan yang tak terbatas, kecepatannya melebihi kecepatan cahaya, tajamnya melebihi ketajaman pedang. Kalau bisa mengendalikan pikiran kelima indra juga mudah untuk ditundukkan. Cara mengendalikan pikiran pertama pikiran harus dibersihkan dengan cara membaca atau melantunkan mantra-mantra atau sloka-sloka Weda, dan meditasi.

Adabanyak ragam puasa, namun sayang umat Hindu di Indonesia hanya menjalankan 2 puasa secara massal yaitu puasa Nyepi dan puasa Siwa Ratri. Namun demikian sesungguhnya umat Hindu bisa menjalankan puasa Siwa Ratri setiap bulan, sebab setiap bulan kita bertemu dengan Siwa Ratri yaitu pada purwani tilem.

Bhagawan Sri Stya Sai Baba mengatakan:

“Beginilah, malam dikuasai oleh bulan. Bulan mempunyai enam belas kala atau bagian-bagian kecil. Setiap hari bila bulan menyusut, berkuranglah satu bagian kecil hingga bulan hilang seluruhnya pada malam bulan yang baru. Setelah itu setiap hari tampak sebagaian, hingga lengkap pada bulan purnama. Bulan adalah dewata yang menguasai manas yaitu pikiran dan perasaan hati. ‘Candramaa manaso jaathah’. Dari Manas (pikiran) Purusha (Tuhan) timbullah bulan.Adadaya tarik menarik yang erat antara pikiran dan bulan, keduanya dapat mengalami kemunduran atau kemajuan. Susutnya bulan adalah simbul susutnya pikiran dan perasaan hati, karena pikiran dan perasaan hati dikuasai, dikurangi akhirnya dimusnahkan. Semua sadhana ditujukan pada hal ini. Manohara, pikiran dan perasaan hati harus dibunuh, sehingga maya dapat dihancurkan dan kenyataan terungkapkan. Setiap hari selama dua minggu ketika bulan menggelap, bulan, dan secara simbolis rekan imbangnya di dalam diri manusia yaitu ‘manas’ menyusut dan lenyap sebagian, kekuatannya berkurang, dan akhirnya pada malam keempat belas, Chaturdasi, sisanya hanya sedikit. Jika pada hari itu seorang sadhaka berusaha lebih giat, maka sisa yang kecil itupun dapat dihapuskan dan tercapailah Manonigraha (penguasaan pikiran dan perasaan hati). Oleh karena itu Chaaturdasi dari bagian yang gelap disebut Siwaratri. Karena malam itu seharusnya digunakan untuk japa dan dhyana kepada Siwa tanpa memikirkan soal yang lain, baik soal makan maupun tidur. Dengan demikian keberhasilan pun terjamin. Dan sekali setahun pada malam Mahasiwaratri, dianjurkan mengadakan kegiatan spiritual yang istimewa agar apa yang Savam (jasat atau simbol orang yang tak memahami kenyataan sejati) menjadi Sivam (terberkati, baik, ilahi) dengan menyingkirkan hal yang tak berharga, yang disebut Manas.”

Jadi dengan bisa dikuasainya pikiran, indra-indrapun akan lebih mudah ditundukkan dan kebahagiaan yang sejati akan tercapai.

Wrhaspati Tattwa mengajarkan ada 3 jalan untuk mencapai moksa, yaitu:

1. Jnanabhyadreka artinya jalan pengetahuan tentang semua tattwa.

2. Indriyayogamaarga artinya jalan pengendalian atas indra dengan melepaskan diri dari segala indra atau tidak menikmati indra.

3. Trsnadosaksaya artinya memusnahkan buah perbuatan baik dan buruk atau kerja tanpa mengikatkan diri pada hasil kerja.

Selamat menjalankan puasa Mahasiwaratri dan jangan lupa bulan berikutnya ada Siwararti juga yang harus dimanfaatkan untuk berpuasa agar bisa mencapai kesucian lahir dan batin.

Raditya 55

http://www.parisada.org/index.php?option=com_content&task=view&id=268&Itemid=97

Puasa, mebrata, Upawasa merupakan bagian brata, dan brata bagian dari brata-yoga-tapa-samadi, yang menjadi satu kesatuan dalam konsep Nyama Brata. Kewajiban warga Hindu menggelar brata-yoga-tapa-samadi diisyaratkan dalam kakawin Arjuna Wiwaha sebagai berikut. “Hana mara janma tan papihutang brata-yoga-tapa-samadi angetul aminta wiryya suka ning Widhi sahasaika, binalikaken purih nika lewih tinemuiya lara, sinakitaning rajah tamah inandehaning prihati.”

Artinya:
Ada orang yang tidak pernah melaksanakan brata-yoga-tapa-samadi, dengan lancang ia memohon kesenangan kepada Widhi (dengan memaksa) maka ditolaklah harapannya itu sehingga akhirnya ia menemui penderitaan dan kesedihan, disakiti oleh sifat-sifat rajah (angkara murka/ambisius) dan tamah (malas dan loba), ditindih oleh rasa sakit hati. Tegasnya, bila ada orang yang tidak pernah menggelar brata-yoga-tapa-samadi lalu memohon sesuatu kepada Hyang Widhi maka permohonannya itu akan ditolak bahkan akan mendatangkan penderitaan baginya. Yang dimaksud dengan brata adalah mengekang hawa nafsu pancaindra, yoga adalah tepekur merenungi kebesaran Hyang Widhi; tapa adalah pengendalian diri; samadi adalah mengosongkan pikiran dan penyerahan diri total sepenuhnya pada kehendak Hyang Widhi.

Jadi berpuasa yang baik senantiasa disertai dengan kegiatan lainnya seperti di atas, tidak dapat berdiri sendiri. Upawasa batal jika melanggar/tidak melaksanakan brata-yoga-tapa-samadi. Untuk kesempurnaan berpuasa, disertai juga dengan ber-dana punia, yaitu memberikan bantuan materi kepada kaum miskin.

Aturan-aturan berpuasa bermacam-macam, antara lain:
1. Upawasa yang dilaksanakan dalam jangka panjang lebih dari sehari, di mana pada waktu siang tidak makan/minum apa pun. Yang dinamakan siang adalah sejak hilangnya bintang timur daerah timur sampai timbulnya bintang-bintang di sore hari;

2. Upawasa jangka panjang antara 3-7 hari dengan hanya memakan nasi putih tiga kepel setiap enam jam dan air klungah nyuh gading;

3. Upawasa jangka pendek selama 24 jam tidak makan/minum apa pun disertai dengan mona (tidak berbicara), dilaksanakan ketika Siwaratri dan sipeng (Nyepi);

4. Upawasa total jangka pendek selama 24 jam dilaksanakan oleh para wiku setahun sekali untuk menebus dosa-dosa karena memakan sesuatu yang dilarang tanpa sengaja; puasa itu dinamakan santapana atau kricchara;

5. Upawasa total jangka pendek selama 24 jam dilaksanakan oleh para wiku setiap bulan untuk meningkatkan kesuciannya, dinamakan candrayana.

Ketika akan mulai berpuasa sucikan dahulu badan dan rohani dengan upacara majaya-jaya (jika dipimpin pandita) atau maprayascita jika dilakukan sendiri. Setelah itu haturkan banten tegteg daksina peras ajuman untuk menstanakan Hyang Widhi yang dimohon menyaksikan puasa kita.

Ucapkan mantram:
Om Trayambakan ya jamahe sugandim pushti wardanam,
urwaru kam jwa bandanat, mrityor muksya mamritat,
Om ayu werdi yasa werdi, werdi pradnyan suka sriam,
dharma santana werdisyat santute sapta werdayah,
Om yawan meraustitho dewam yawad gangga mahitale candrarko gagane yawat, tawad wa wiyayi bhawet.
Om dirgayuastu tatastu astu,
Om awignamastu tatastu astu,
Om subhamastu tatastu astu,
Om sukham bawantu,
Om sriam bawantu,
Om purnam bawantu,
Om ksama sampurna ya namah,
Om hrang hring sah parama siwa aditya ya namah swaha.
Artinya, “Ya, Hyang Widhi, hamba memuja-Mu, hindarkanlah hamba dari perbuatan dosa dan bebaskanlah hamba dari marabahaya dan maut karena hanya kepada-Mu-lah hamba pasrahkan kehidupan ini, tiada yang lain.

Semoga Hyang Widhi melimpahkan kebaikan, umur panjang, kepandaian, kesenangan, kebahagiaan, jalan menuju dharma dan perolehan keturunan, semuanya adalah tujuh pertambahan.

Selama Iswara bersemayam di puncak Mahameru (selama Gunung Himalaya tegak berdiri), selama Sungai Gangga mengalir di dunia ini, selama matahari dan bulan berada di angkasa, semoga selama itu hamba sujud kepada-Mu, ya Hyang Widhi.”

Source : sarad-bali

http://pasektangkas.blogspot.com/2007/10/puasa-menurut-hindu.html

Ekadasi Vrata

Aturan-aturan untuk Berpuasa

Standar untuk Buka Puasa Ekadasi

Jika anda sedang melakukan puasa penuh (dengan sama sekali tanpa air) anda tidak boleh berbuka puasa dengan biji-bijian. Anda dapat berbuka dengan Caranamrita atau buah. Tetapi jika anda melakukan puasa Ekadasi dengan makan buah, sayur-mayur,dll. Kemudian di hari berikutnya haruslah berbuka dengan biji-bijian pada waktu yang dijelaskan pada Kalender vaisnava. Maha-dvadasi juga dilakukan sama seperti puasa Ekadasi.

Ekadasi

Pada hakekatnya Ekadasi adalah makan/prasad dengan sederhana, sekali atau dua kali, sehingga seseorang dapat menghabiskan banyak waktu untuk mendengarkan, mengucapkan dan mengingat Sri Sri Radha-Krsna. Jangan pernah makan daging, ikan, telur, bawang merah, bawang putih, wortel, kacang lentil merah (masur dahl), kacang lentil gepeng hijau, jamur atau produk-produk sejenisnya.

* Makanan-makanan yang tidak diperbolehkan pada Ekadasi:

* Buah tomat, terung, kembang kol, brokoli, merica bubuk, kayu manis, semangka pahit (karela), loki, parmal, toroi, kunli, tongkat tambur,  bindi (ladies fingers) dan bunga pisang

* Kacang polong, kacang panjang/buncis dan semua jenis dari kacang-kacangan, termasuk produk-produk yang dibuat dari kacang-kacangan (misal, papadams, tahu,tempe)

* Semua sayuran daun (misal, bayam, selada, kubis) dan bumbu dari daun tumbuh-tumbuhan seperti daun peterseli, daun ketumbar, seledri dan daun curry

* Biji-bijian (misal, padi-padian millet, barley, kanji, pasta, beras, jagung) dan semua jenis tepung gandum yang terbuat dari biji-bijian dan kacang-kacangan (misal, tepung beras, tepung kacang panjang/buncis, tepung urad dahl)

* Tepung Kanji dari jagung atau biji-bijian, dan produk-produk terbuat dari atau bercampur dengan tepung ini seperti soda kue, ragi, minuman tanpa alkohol tertentu dengan sirup jagung, sejenis pudding, yoghurt-yoghurt tertentu

dan kue puding, variasi-variasi tertentu dari keju krim dan keju cottage, gula gula dan permen, dan bola-bola tepung ubi kayu

* Minyak yang dibuat dari biji-bijian (misal, minyak jagung, minyak sawi, minyak wijen) dan produk-produk yang digoreng di dalam minyak-minyak ini (misal, kacang-kacangan yang digoreng, Kripik kentang dan makanan-makanan kecil yang digoreng terpisah)

* Madu, dan gulagula dibuat dengan tepung kanji

* Bumbu-bumbu yang boleh digunakan pada Ekadasi: lada hitam, jahe segar/baru, garam murni dan kunyit segar/baru, semua mengambil dari suatu kemasan bersih dan yang baru

* Bumbu-bumbu tidak boleh digunakan pada Ekadasi:  hing (asafetida), biji wijen, cumin, kelabet, biji sawi, asam jawa, adas, sejenis pohon jahe dan pala

* Makanan-makanan yang dapat dikonsumsi setiap hari sepanjang tahun, termasuk Ekadasi dan Caturmasya:

* Semua buah-buahan (baru dan dikeringkan), semua kacang-kacangan dan semua minyak yang terbuat dari kacang-kacangan

* Kentang, labu, ketimun, lobak, squash, jeruk, buah alpokat, minyak zaitun, kelapa, gandum, semua gula

* Semua produk-produk susu yang murni (kecuali yoghurt selama bulan yang kedua Caturmasya dan susu selama bulan yang ketiga)

* Untuk Sanyasis, Brahmacaris dan vanaprasthas: mencukur kepala dan memotong kuku agar untuk dilaksanakan pada hari bulan purnama Caturmasya

* Makanan-makanan terbatas selama seluruh empat bulan Caturmasya:

* Terung-terungan, buah tomat, loki, parmal, urad dahl dan madu

* Makanan-makanan tertentu yang terbatas selama masing-masing dari empat bulan:

* Bulan pertama: Tanpa sayuran berdaun, seperti bayam, semua jenis salad, semua jenis kubis-kubis, sayur hijau, bumbu dari dedaunan seperti ketumbar, permen, daun peterseli, curry dan bumbu bubuk dari dedaunan dan teh-teh

* Bulan Kedua: Tanpa yoghurt (jika seseorang memerlukannya untuk kesehatan, itu dapat dicampur dengan air)

* Bulan ketiga: Tanpa susu (jika diperlukan, itu dapat dicampur dengan setetes air jeruk-sitrun)

* Bulan keempat: Tanpa minyak biji sawi atau biji wijen Purusottama Masa

* Makanan-makanan terbatas selama bulan Purussottama:

* Terung-terung, buah tomat, loki, parmal, urad dahl, madu, minyak biji sawi atau biji wijen

* Tanpa bercukur untuk brahmacaris dan sannyasis

http://bhaktibali.com/balisevateams/ekadasi/

 Puasa Ekadasi

Masih banyak umat Hindu di Indonesia tidak mengenal adanya aturan puasa dalam Veda. Mereka sering kali beranggapan bahwa puasa adalah tirakat yang dilakukan untuk memperoleh kesaktian batin dan memperoleh anugrah-anugrah gaib tertentu, sehingga tidak banyak umat Hindu yang melakukan puasa secara rutin.

Jika umat Islam melakukan puasa sebulan penuh sesuai dengan sunah nabi mereka, lalu bagaimana dengan Hindu?

Dalam kitab suci Veda sebenarnya terdapat banyak aturan-aturan yang membahas tentang puasa dan jenis-jenisnya. Puasa tidak hanya sekedar latihan pengendalian diri, tetapi juga ditujukan untuk memperingati momen-momen tertentu. Bahkan menurut beberapa sumber, pada dasarnya puasa menurut Veda juga menghasilkan phala (buah perbuatan) tertentu yang meskipun dalam banyak sloka-sloka Veda selalu ditegaskan bahwa kita tidak boleh terikat pada hasil tersebut.

Salah satu hari untuk melakukan puasa yang paling dikenal dan diterapkan oleh pemeluk Veda di seluruh dunia adalah puasa Ekadasi. Ekadasi berasal dari kata Eka dan Dasi. Eka berarti satu dan Dasa/dasi berarti sepuluh. Ekadasi adalah puasa yang sangat keramat dilaksanakan pada hari ke sebelas dihitung mulai dari sehari setelah bulan purnama atau bulan mati sebagai hari yang pertama dan lusa dihitung sebagai hari yang ke dua dan seterusnya hingga hari ke sebelas.

Pada hari ke sebelas ini umat Hindu dianjurkan untuk melakukan puasa Ekadasi karena dikatakan puasa ekadasi ini bila dilaksanakan secara teratur akan dapat menghilangkan semua dosa dan kebodohan dalam diri manusia sekaligus merubah nasib hidupnya, bahkan dapat meningkatkan kekuatan batin, hingga ke tingkat yang paling tinggi yakni tingkatan bhakti kepada Tuhan.

// < ![CDATA[
// < ![CDATA[
// // < ![CDATA[
// < ![CDATA[
// Menurut Candrawati dalam bukunya yang berjudul “Ekadasi bimbingan rohani Hindu dalam berpuasa”, puasa Ekadasi sendiri terdiri dari 26 jenis. Adapun jenis-jenis puasa Ekadasi tersebut antara lain;

  1. Utpanna
  2. Moksada
  3. Saphala
  4. Putrada
  5. Sat-tila
  6. Jaya
  7. Vijaya
  8. Amalaki
  9. Papamocani
  10. Kamada
  11. Varutini
  12. Mohini
  13. Apara
  14. Nirjala
  15. Yogini
  16. Padma
  17. Kamika
  18. Putrada
  19. Aja
  20. Parivartini
  21. Indira
  22. Papangkusa
  23. Rama
  24. Haribodini
  25. Padmini
  26. Parama

Puasa Ekadasi dilakukan mulai jam 00.00 dan baru berakhir pada hari berikutnya kira-kira setelah sembahyang pagi saat Brahma Muhurta yang waktunya tidak tentu dan sesuai dengan perhitungan Jyotisa (Astronomi Veda). Jadi waktu puasa Ekadasi rata-rata adalah 30 jam lebih.

Bagi mereka yang tidak kuat menahan lapar atau mungkin karena alasan tertentu dapat melakukan puasa Ekadasi dengan berpantang memakan biji-bijian. Jadi hanya dapat memakan buah-buahan atau umbi-umbian. Namun pada saat Nirjala Ekadasi, semua penganut Veda dianjurkan untuk melakukan puasa total, tidak makan dan minum sama sekali.

Dalam satu bulan terdapat 2 hari Ekadasi dan juga 1 atau 2 jadwal puasa selain Ekadasi dalam rangka memperingati kemunculan Avatara, Rsi/guru kerohanian, atau even-even yang lainnya. Jadi paling tidak umat Hindu seharusnya melakukan puasa paling tidak  3 kali dalam satu bulan. Ternyata aturan ini juga terdapat dalam salah satu hadis umat muslim yang menyatakan “Siapa yang berpuasa tiga hari setiap bulan, maka itu sama dengan puasa dahr (puasa sepanjang tahun)”.

Puasa secara teratur 2-4 kali sebulan ternyata memberikan efek yang sangat positif bagi kesehatan tubuh manusia. Karena sel tubuh selalu mengalami siklus pembelahan dan regenerasi, maka puasa yang teratur dapat membantu menghilangkan sel-sel yang rusak dan lemah di dalam tubuh. Sel-sel rusak akan “termakan” dan dirubah menjadi sumber energi disaat tidak adanya asupan energi dari makanan. Sehingga dengan adanya regenerasi yang baik pada sel-sel dalam tubuh kita, maka kemungkinan adanya risiko tumbuhnya sel tumor atau kanker dapat ditekan.

Puasa yang teratur 2-4 kali dalam sebulan juga dapat menekan mal-Kolesterol di dalam tubuh, sehingga kemungkinan munculnya penyakit jantung koroner dan struk akibat penyempitan pembuluh darah, pembengkakan jantung dan otak dapat dikurangi.

Selain itu masih terdapat banyak hasil-hasil penelitian secara ilmiah yang telah mengungkapkan manfaat puasa secara teratur ini.

Dengan melakukan aturan puasa ini, anda akan mendapatkan manfaat rohani sebagaimana yang dijelaskan dalam buku yang saya kutip di atas dan sekaligus mendapatkan tubuh yang sehat. Jadi, kenapa kita tidak mencoba menerapkan puasa Ekadasi ini secara teratur dari sekarang?

http://narayanasmrti.com/2009/10/09/puasa-ekadasi/

Tutup Upawasa yang Baik

Bagaimana cara menutup upawasa yang baik? Dalam buku Filsafat Vegetarian (Ananda Marga) disebutkan untuk menutupnya didahului dengan minum segelas air bercampur air jeruk nipis. Setengah jam kemudian diikuti dengan makan pisang. Tetapi pisangnya tidak dikunyah halus, melainkan hanya dipotong potong dengan gigi kemudian ditelan. Adakah cara lain?

Cara paling baik menutup Upawasa adalah dengan cara minum air pada detik yang tepat penutupan Upawasa. Penutupan Upawasa dengan air dianjurkan mengingat dalam tradisi Veda, air diyakini berfungsi sebagai jalan tengah, tutup puasa atau pun tidak.

Ceritanya, ketika Maharaja Ambrisha kedatangan rombongan Resi Durwasa, Maharaja Ambrisha sedang melaksanakan Upawasa. Sebelum dijamu makan, Resi Durwasa mengatakan akan mandi dulu ke sungai dan akan balik setelah mandi.

Pada detik Maharaja Ambrisha harus membuka puasa Resi Durwasa belum juga datang. Akhirnya, atas anjuran pada pendeta penasihat kerajaan, Maharaja Ambrisha meminum air untuk menutup puasanya. Tetapi, meminum air juga dianggap tidak makan, sehingga Maharaja Ambrisha juga terbebas dari kesalahan makan sebelum tamu (Resi Durwasa) disuguhkan makanan.

Adapula yang memilih penutupan dengan juice. Prinsipnya, kita tidak membuat sang perut “kaget” dengan makanan agak keras, jadi pilihan adalah minum air atau juice. 10-15 menit kemudia bisa dilanjutkan dengan makanan, yang juga diusahakan makanan yang lembut, tidak keras, tidak panas/pedas. Semoga bermanfaat. Rahayu, by: I Wayan Sudarma

http://dharmavada.wordpress.com/2010/02/22/tutup-upawasa-yang-baik/

4 Responses

  1. Mertamupu 1 August 2011 6:50 pm #

    tambahan dikit.. Jika anda search di google arti kata puasa pasti kata yang diuraikan tidak mengena pada kata “Puasa” (jika penulisnya orang non Hindu) , mungkin mereka agak menyembunyikan arti dari kata puasa ,

  2. DRS NYOMAN UDAYANA SANGGING, SH,MM 13 August 2011 11:20 am #

    Suksme atas ilmunya. Sangat bermanfaat. Semula kita hanya mengira puasa itu pada saat melaksanakan tapa bratha penyepian. Ternyata banyak sekali jenis dan ragamnya http://twitter.com/#!/HukumHindudan sama sekali belum pernah didengar apalagi melakukannya. Dumogi hal seperti ini bisa diketahui oleh masyarakat hindu lainnya. Rahayu.

    • Mertamupu 13 August 2011 10:13 pm #

      terima kasih atas kunjunganya, semoga bermanfaat. om namah astu


Trackbacks/Pingbacks.

  1. Kumpulan Artikel Puasa Menurut Hukum Hindu | Portal Hindu - 02. Aug, 2011

    [...] Pada dasarnya hukum berarti aturan, puasa berarti mendekatkan diri dengan Tuhan melalui pengenda lian indrya atau indra, lalu bagaimana Puasa dalam Hukum Hindu? dibawah ini saya kutipkan beberapa artikel yang membahas tentang puasa diadalam ajaran Hindu atau Hukum Hindu. Puasa dalam kaitanya Hukum Hindu adalah sebagai Penebusan Dosa, tentang puasa sebagai penebusan Dosaterdapat didalam  kitab-kitab Dharmasastra.   Arti Kata Puasa Puasa berasal dari bahasa sansekerta yang terdiri dari kata Baca Selengkapnya.. [...]